revianto budi santosa

architecture, culture and life

arsitek adalah dhalang [2]

ALL KNOWER/ALL DOER vs COLLABORATOR

Dhalang adalah sosok ajaib. Dia paham legenda, hikayat dan sejarah segala zaman; peka terhadap kehendak para dewa, wali, maupun dhanyang, pemerintah dan partai politik yang berada di sekitarnya; mampu menangkap aspirasi orang yang menanggap sambil tetap memiliki jatidiri dan kepribadian; cermat terhadap tiap rinci bentuk wayang dan karakter yang diungkapkannya; seksama terhadap tiap hentakan kendhang, getaran gendèr dan alunan sindhèn;

Dhalang haruslah mampu menyuarakan kegeraman Rahwana hingga kemanjaan Sembadra; piawai dalam mengolah dialog yang beragam, dari wacana sufistik transendental hingga rayuan sensual gombal atau ndhagel hingga membuat terpingkal; terampil menggerakkan boneka wayang; menyusun dramaturgi; merdu berlagu; menjadi konduktor orkestra; dan dapat meramu semua itu menjadi pertunjukan yang memukau selama delapan jam.

Arsitek mestinya atau diharapkan juga seperti itu!

Segala ilmu dia musti tahu. Dia paham dari urusan tukang batu, ukuran paku, memotong kayu, hingga susunan panil surya berteknologi maju.

Dia mampu merancang bangunan semungil gardu hingga menara berlantai seribu. Dia ahli dalam urusan membentang paradigma ilmu, mengasah manajemen qolbu hingga membaca sabda ilahiah dari langit ketujuh. Bisakah begitu?

Dhalang yang hebat memiliki silsilah dhalang yang kuat (sokur langsung sampai Kyai dan Nyai Panjangmas, leluhur semua dhalang), berguru dan nyantrik pada dhalang-dhalang terkemuka, dan mendapat persetujuan ilahiah berupa “wahyu dhalang” dengan rajin menyambangi makam dan petilasan. [Dhalang yang semata “weton sekolahan” hanya dipandang sebelah mata oleh khalayak dan kolega]

Para calon arsitek tidak, dengan membaca sedikit tulisan dan menorehkan sejumlah goresan di bangku sekolahan, mereka yakin dapat menjadi arsitek jempolan!

Pedhalangan berubah, Arsitektur juga!

Semula hanya berurusan dengan Sunyahni, kini dhalang harus berbagi panggung dengan Yati Pesek, Gogon, Mbah Ranto, para musisi Campursari Majulancar, dan bahkan penyanyi/pegoyang OM Pesisiran. Limbukan menjadi lebih panjang dari janturan Ngestina, dan saat goro-goro pun dhalang tinggal mengajukan request pada berbagai tontonan rekanannya tersebut. LCD dan slide projector pun dioperasikan stafnya menyemarakkan layar yang ditinggalkan blencong. Tak lebih dan tak kurang, sang super dhalang adalah kolaborator yang menyelenggarakan pentas bersama pembanyol dan pengebor.

Arsitek juga. Tinggi bangunan tak lagi ditentukan oleh perhitungan proporsi estetis ataupun aspirasi masyarakat tapi oleh kalkulasi ekonomis para developer dan kreditor. Rancangan konstruksi kuda-kuda oleh supplier dan applikator. Sedangkan alur sirkulasi, zoning dan orientasi ruang dirumuskan oleh feng-shui master. Mestikah dia bertanggungjawab atas keterpaduan dan keberhasilan keseluruhan rancangan?

Superman tak pernah berkolaborasi apalagi berkoalisi karena dia dianggap mrantasi, sementara arsitek diharapkan mrantasi tapi sambil bersandar pada kanan kiri untuk dapat sekedar tegak berdiri.

Arsitektur juga. Di Las Vegas, billboard adalah façade yang lebih mencolok daripada bangunan di sebaliknya yang bersahaja, neon sign psikadelik adalah aura yang memancar dari bangunan. Piramida Giza, Patung Liberty, Menara Eiffel, Piazza San Marco dan Masjid Agung Maroko, kita jumpai rukun berderetan meskipun semua palsu.

arsitek adalah Superman [1]

MENGHASRATKAN SUPERMAN

Pada hakekatnya Superman bukanlah berasal dari planet Krypton. Dia terutama lahir dari hasrat dan dambaan yang dikomodifikasikan dalam tontonan. Tokoh supersakti, pamungkas segala masalah [seperti iklan Perum Pegadaian, “mengatasi masalah tanpa masalah”] ini menyingkirkan dis-order di dunia dan menggantinya dengan ketertiban dan keteraturan.

Arsitek kurang-lebih juga [diharapkan] berperan serupa.

SUPERKUCING
[Kalau ini Superkucing . . . . . ]

Padahal, selain urusan kesaktian, ada sejumlah mendasar antara keduanya. Superman menjalankan “dharma”nya dengan menghancurkan sedangkan arsitek dengan membangun. Tanpa konsultasi yang mendalam dengan orang yang akan ditolongnya, Superman bergegas seraya mendengan teriakan minta tolong. Kepada penjahat dia juga tak pernah menginvestigasi secara mendalam motivasi dia berbuat kejahatan dan latar belakang sosial, ekonomi dan psikologi penjahat tersebut. Penjahat ditumpas dengan dibunuh, suatu solusi sesaat. Setelah Superman pergi, di tempat yang sama penjahat lain mungkin akan berbuat kejahatan yang lebih keji.

Tugas arsitek jauh lebih kompleks ketimbang Superman. Dia diharapkan memiliki pemahaman mendalam tentang klien dan masalah-masalah yang dihadapinya, sebelum memutuskan tindakan. Kebutuhan ragawi dan jiwani klien, aspirasi dan impian mereka, hingga ke hubungan dengan tetangga. Bangunan, apalagi kalau menyandang sebutan sebagai arsitektur, diharapkan akan abadi dan tetap dapat menjadi senjata pamungkas dalam menghadapi masalah yang bahkan belum terbayangkan saat bangunan tersebut jadi.

Mereka merumuskan arsitek laiknya mendambakan superhero:

[dua ribu tahun yang lalu . . . . ]

Book One

Chapter I: The Education of the Architect

The architect should be equipped with knowledge of many branches of study of varied kinds of learning, for it is by his judgement that all work done by other arts is put to the test.

Let them be educated, skillful with the pencil, instructed in geometry, know much history, have followed the philosophers with attention, understand music, have some knowledge of medicine, know the opinion of the jurist, and be acquinted with astronomy and the theory of heavens. (Marcus Pollio Vitruvius, 0025)

[belakangan ini . . . . . . ]

They Want More

Today’s clients want more from architects. They want creative designers with souls in the air, but minds firmly rooted in the practical. And architects want more of themselves. They want to be leaders, strategic thinkers and masters of the design and construction process. Students also want more from their education—a studio culture that frees them to explore their essence inside and outside the architecture world. And academics themselves are experimenting with new ways of delivering information that take into account changing building complexities and university economics.

Yet, architects are learning the science and art of their craft much the same way today as they did years ago. The question today then is what should architects be taught if they are to be productive, successful contributors to the future? (Abramowitz, 2003)